PENATALAKSANAAN
PASIEN CIDERA KEPALA DAN TULANG BELAKANG
A.
Penanganan Cidera Kepala
1. Masalah Pernapasan
Pasien harus di
tempatkan dalam posisi miring atau seperti posisi koma (Gbr.1). Perawatan yang
dilakukan harus menghindari fleksi leher yang berlebihan karena baik jalan
napas dan TIK dapat terganggu. Pengubahan posisi yang sering akan membantu
mencegah penumpukan sekresi pada lapang paru dependen.
Perawat harus
mengkaji frekwensi dan upaya pernapasan pasien, serta warna kulit, bunyi napas
dan ekspansi dada. Bila abnormalitas di hadapi, GDA harus di ukur untuk
mengevaluasi efektivitas Ventilasi. Bila pengisapan diperlukan, pasien harus di
hiperoksigenasi sebelum, selama dan sesudah prosedur sehingga cedera otak
sekunder karena hipoksia dan peningkatan
TIK diminimalkan.
2. Masalah Mobilisasi fisik
Posisi yang benar
membantu menghambat tonus abnormal dan memungkinkan penanganan yang lebih mudah
oleh terapi fisik.
·
Postur Tubuh
Abnormal
Paling umum pada pasien cedera otak adalah postur
opistotonik. Ini adalah lengkung ke depan dari punggung dan hiperekstensi
kepala dengan semua ekstremitas kaku dan lurus atau hiperekstensi. Posisi tubuh
ini lebih berat bila pasien terlentang. Rotasi batang tubuh dan fleksi
ekstremitas bawah akan membantu menghentikan posisi ini (Gbr.2).
·
Kontraktur
Rentang gerak pasif digunakan untuk
meregangkan otot dan mempertahankan mobilitas sendi. Pada pasien immobilisasi,
perawat harus menggerakan setiap sendi melalui rentang gerak normalnya pada
situasi regular. Bila mobilitas sendi terbatas terjadi karena peningkatan tonus
otot,” pembebatan” sendi pada posisi fungsional dapat membantu pasien
meningkatkan rentang gerak. Pembebatan dapat di buat dari berbagai bahan
(plester,akrilik) dan bantalan untuk mencegah iritasi kulit. Penggunaan bantal atau
bantal busa besar dalah cara yang mudah dan efektif untuk membebat sendi-sendi
lebih besar seperti lutut atau siku. Ekstensikan ekstremitas pasien sejauh
mungkin dan tempatkan dua atau lebih bantal atau bantalan busa secara
longitudinal terhadap sendi yang sakit. Pembebatan bantal dapat di biarkan pada
tempatnya selama 1 jam bila sirkulasi adekuat tak terganggu.
·
Kerusakan
Kulit
Dengan hilangnya fungsi motorik,
pasien cedera otak dapat rentan terhadap kerusakan kulit. Pasien tidak sadar,
dan seseorang yang dalam keadaan immobilisasi cenderung mangalami masalh kulit
karena penekanan, kelembaban. Gesekan, dan penurunan sensasi.
a. Lakukan tindakan untuk mengurangi tekanan pada
bagian penonjolan tulang. Tindakan ini dilakukan dengan menggunakan bantalan
lunak di atas dan di bawah penonjolan tulang. Contoh, ketika pasien pada posisi
miring, perawat dapat meletakan bantal kecil di atas dan di bawah panggul dan
di atas maleolus lateral dari pergelangan kaki. Bantalan juga dapat di pakai
dan ditempatkan pada titik tonjolan tulang seperti lutut (Gbr.3). Bila pasien
berbaring pada punggung, perawat harus menempatkan bantalan di atas dan di
bawah sacrum dan di atas tumit (Gbr.4).
b. Kaji integritas kulit dan kemerahannya setiap 2
jam selama pengubahan posisi.
c. Evaluasi kebutuhan dan keefektifan tempat tidur
khususu atau matras.
d. Mengubah posisi pasien setiap 2 jam.
3. Masalah Kondisi hidrasi
Pengukuran masukan
dan haluaran cairan yang akurat dan evaluasi terhadap perubahan berat badan
dari hari kehari sangat penting pada pengkajian keseimbangan cairan. Perawat
juga harus mengkaji kulit pasien dan membrane mukosa terhadap kering dan
pecah-pecah, yang mencetuskan cedera lanjut. Observasi ketat terhadap status
kardiovaskuler pasien di perlukan demgan evaluasi kecenderungan pada tanda
vital, tekanan vena sentral, dan tekanan arteri pulmonel serta curah jantung.
4. Masalah Menelan
a. Kaji
kemampuan untuk menelan sebelum memberikan makan : kaji refleks menelan
dengan mempalpasi tonjolan tyroid pada gerakan ke atas ; observasi gerakan lidah
dan bibir.
b. Observasi penutupan bibir dan gerakan lidah akan
memberikan informasi tentang fase oral dari menelan yang adekuat. Bicara ngorok
atau kelemahan suara atau keduanya menandakan kerusakan pada perototan
orolaringeal, yang dapat merusak kemampuan menelan juga.
c. Mulailah memberikan makan peroral dengan makanan
padat jernih seperti gelatin atau agar-agar.
d. Kaji refleks batuk sebelum memulai masukan oral.
Pasien harus memperlihatkan refleks batuk yang adekuat untuk melindungi jalan
napas. Batuk yang lemah tidak dapat membersihkan jalan napas bila proses
aspirasi terjadi sehingga pasien tidak dapat memulai makan peroral.
5. Masalah Eliminasi
Eliminasi Urine
·
Mengkaji
pengeluaran urine terhadap jumlah, kwalitas dan berat jenis
·
Periksa
residu kandung kemih setelah berkemih
·
Jika setelah
berkemih residu urine > 200 ml catat masukan dan haluaran.
·
Jika
menggunakan kateter intermiten digunakan 4-8 jam, pertahankan teknik styeril
selam prosedur
·
Penampung
urine eksternal mencegah infeksi saluran kemih
·
Jika kateter
suprapubik diginakan, bersihkan sisi kateter setiap 8 jam
·
Mengkaji
adanya peningkatanm suhu tubuh.
Eliminasi Bowel
·
Pertahankan
program latihan usus
·
Rangsang
devekasi dengan rangsanagn jari bila pasien memiliki sensasi rectal minimal.
Rangsangan jari meliputi pemasukan jari bersarung tangan dengan pelumas tidak
lebih dari garis batas jari kedua sedalam sfingter rectal eksternal. Dengan
gerakan sirkuler lambat terhadap sfingter, refleks medulla spinalis akan di
nilai. Baik sfingter rektai internal dan eksternal akan relaks, peristaltic
akan meningkat dan evekuasi usus akan terjadi.
·
Gunakan eneme
atau suposutioria pada pasien sadar
·
Beri pelunak
feses sesuai instruksi
6. Masalah Komunikasi
Kerusakan Komunikasi Verbal
·
Gunakan
kalimat yang sederhana
·
Gunakan
bahasa tubuh dan isyarat lingkungan untuk berkomunikasi
·
Beri waktu
berespon yang adekuat
·
Buat
rutinitas untuk kegiatan sehari-hari
·
Gunakan nada
suara yang normal
·
Kaji deficit
komunikasi terhadap disatria dan apraksia
·
Bantu
keluarga dalam mengembangkan metode komunikasi dengan pasien
Perubahan Proses Pikir
·
Kontror
ransang pada lingkungan pasien
·
Kaji respon
terhadap rangsangan yang di control
·
Hindari
pemberian sebutan terhadap respon yang tidak sesuai (mis ; bermusuhan, apatis,
marah, menarik diri)
·
Jika pasien
lethargi, tambahkan rangsang pada lingkungan (radio dan tape)
·
Jika pasien
agitasi kurangi rangsangan lingkungan.
B.
Penanganan Cidera Spinal
1. Penatalaksanaan Pernapasan
·
Kaji irama
atau pola napas setiap 4 jam
·
Kaji bunyi
napas setiap 2-4 jam
·
Evaluasi
nilai GDA sesuai dengan kebutuhan
·
Pengkajian
pasien dengan teknik batuk yang adekuat dapat membantu membersihkan jalan napas
secara lebih efektif walaupun terjadi kelemahan atau kehilangan otot pernapasan
yang menghasilkan refleks batuk otomatis.
·
Pengisapan
sesuai kebutuhan dan evaluasi efeknya
2. Latihan Usus
Langkah-langkah latihan usus :
Tujuan untuk mempertahankan dan
mencapai inkontinensia usus
a. Tentukan kebiasaan BAB sebelum cedera jika mungkin
b. Ikuti program BAB yang di buat. Contoh dari
program BAB adalah untuk pasien yang di Bantu dalam makan (makanan perselang
atau makanan reguler).
·
Colase 100 mg
peroral atau melalui selang NGT 3 kali perhari
·
Dulcolax
supositoria setiap malam kecuali pasien telah BAB siang harinya.
·
Susu
magnesium 30 ml peroral atau melalui selang NGT setiap 2 malam atau pada
tanggal tertentu kecuali pasien telah BAB siang harinya.
·
Pada pasien
yang sedang dalam keadaan puasa
·
Dulcolax
Supositoria setiap 2 malam pada tanggal tertentu
c. Enema dapat di berikan setiap hari sampai timbul
peristaltic. Ini terdiri dari pamberian kira-kira 1 litrer air hangat enema dan
kemudian pegang wadah di bawah ketinggian tempat tidur yang memungkinkan air
mengalir kembali dan ulangi prosedur ini beberapa kali.
d. Gunakan program devekasi dalam hubungannya dengan
rangsangan jari. Rangsangan jari terdiri dari pemasukan jari dengan sarung
tangan yang di beri pelumas kedalam sfingter anal, dengangerakan rotasi jari
tangan sekitar sfingter. Sfingter akan secara perlahan dilatasi saat rangsangan
terjadi. Jari dimasukan kira-kira setengah panjangnya, dan rotasi memutar di
berikan terus menerus selama 15-20 menit sampai feses melalui rectum dan
kemudian dievaluasi dari rectum.
e. Bila pola
evakuasi di buat, gunakan hanya rangsangan jari bila mungkin, keluarkan
suposutoria. Gunakan hanya program devekasi pada individu yang tak mampu
mentoleransi rangsang jari.
f. Gunakan rangsang jari setelah setiap gerakan usus
involunter sementara pola devekasi dibuat.
g. Ubah program devekasi sesuai kebutuhan individu
yang ditentukan oleh konsistensi feses.
h. Gunakan salep Nupercainal atau jeli Xylocaine
untuk memasukan supositoria atau untuk melakukan rangsangan jari jika pasien
cenderung terhadap periode disrefleksia otonomik. Jeli atau salep dapat di
gunakan pada rectum dan sekitar sfingter anal sebelum memasukkan supositoria
atau memasukan jari.
i.
Pertahankan
masukan tinggi cairan jika tidak di kontraindikasi sebagai contoh, pada kasus
pembatasan cairan atau peningkatan TIK.
j.
Gunakan
bantalan inkontinen dari pada bedpan bila memberi perawatan devekasi rutin. Badpan
tidak bekerja baik untuk alas an ini : alat ini keras dan dapat menyebabkan
tekanan area di atas koksigis ; ini tidak memungkinkan akses terhadap anus
untuk rangsangan jari ; dan ini dapat mengganggu kesejajaran spinal yang perlu
untuk pemulihan tepat pada pasien cedera medulla spinalis.
k. Beri tahu dokter tentang diare berat dan lama,
inpaksi, perdarahan rectal, atau hemoroid.
3. Perawatan Kulit
a. Melakukan perubahan posisi pada pasien setiap 2
jam. Kondisi kulit harus diperiksa sebelum dan sesudah melakukan perubahan
posisi.
b. Mengajarkan kepada pasien bagaimana melakukan
pemindahan berat badan terutama pada saat mereka bangun dari kursi roda untuk
periode lama selama sehari. Pemindahan
berat badan adalah cara menghilangkan tekanan dari tonjolan tulang.
c. Cegah penggunaan bantalan yang cenderung menahan
keringat
d. Hindari pemakaian pakaian dari bahan nilon karena
bahan tersebut menahan kelembaban.
e. Lindungi kulit dari keringat, feses dan urine.
f. Gunakan lotion atau krim pelumas lain
Tidak ada komentar:
Posting Komentar