Senin, 15 April 2013


PENATALAKSANAAN PASIEN CIDERA KEPALA DAN TULANG BELAKANG

A.    Penanganan Cidera Kepala
1.      Masalah Pernapasan
Pasien harus di tempatkan dalam posisi miring atau seperti posisi koma (Gbr.1). Perawatan yang dilakukan harus menghindari fleksi leher yang berlebihan karena baik jalan napas dan TIK dapat terganggu. Pengubahan posisi yang sering akan membantu mencegah penumpukan sekresi pada lapang paru dependen.
Perawat harus mengkaji frekwensi dan upaya pernapasan pasien, serta warna kulit, bunyi napas dan ekspansi dada. Bila abnormalitas di hadapi, GDA harus di ukur untuk mengevaluasi efektivitas Ventilasi. Bila pengisapan diperlukan, pasien harus di hiperoksigenasi sebelum, selama dan sesudah prosedur sehingga cedera otak sekunder karena hipoksia  dan peningkatan TIK diminimalkan.
2.      Masalah Mobilisasi fisik
Posisi yang benar membantu menghambat tonus abnormal dan memungkinkan penanganan yang lebih mudah oleh terapi fisik.
·         Postur Tubuh Abnormal
Paling umum  pada pasien cedera otak adalah postur opistotonik. Ini adalah lengkung ke depan dari punggung dan hiperekstensi kepala dengan semua ekstremitas kaku dan lurus atau hiperekstensi. Posisi tubuh ini lebih berat bila pasien terlentang. Rotasi batang tubuh dan fleksi ekstremitas bawah akan membantu menghentikan posisi ini (Gbr.2).
·         Kontraktur
Rentang gerak pasif digunakan untuk meregangkan otot dan mempertahankan mobilitas sendi. Pada pasien immobilisasi, perawat harus menggerakan setiap sendi melalui rentang gerak normalnya pada situasi regular. Bila mobilitas sendi terbatas terjadi karena peningkatan tonus otot,” pembebatan” sendi pada posisi fungsional dapat membantu pasien meningkatkan rentang gerak. Pembebatan dapat di buat dari berbagai bahan (plester,akrilik) dan bantalan untuk mencegah iritasi kulit. Penggunaan bantal atau bantal busa besar dalah cara yang mudah dan efektif untuk membebat sendi-sendi lebih besar seperti lutut atau siku. Ekstensikan ekstremitas pasien sejauh mungkin dan tempatkan dua atau lebih bantal atau bantalan busa secara longitudinal terhadap sendi yang sakit. Pembebatan bantal dapat di biarkan pada tempatnya selama 1 jam bila sirkulasi adekuat tak terganggu.  
·         Kerusakan Kulit
Dengan hilangnya fungsi motorik, pasien cedera otak dapat rentan terhadap kerusakan kulit. Pasien tidak sadar, dan seseorang yang dalam keadaan immobilisasi cenderung mangalami masalh kulit karena penekanan, kelembaban. Gesekan, dan penurunan sensasi.
a. Lakukan tindakan untuk mengurangi tekanan pada bagian penonjolan tulang. Tindakan ini dilakukan dengan menggunakan bantalan lunak di atas dan di bawah penonjolan tulang. Contoh, ketika pasien pada posisi miring, perawat dapat meletakan bantal kecil di atas dan di bawah panggul dan di atas maleolus lateral dari pergelangan kaki. Bantalan juga dapat di pakai dan ditempatkan pada titik tonjolan tulang seperti lutut (Gbr.3). Bila pasien berbaring pada punggung, perawat harus menempatkan bantalan di atas dan di bawah  sacrum dan di atas tumit (Gbr.4).
b.      Kaji integritas kulit dan kemerahannya setiap 2 jam selama pengubahan posisi.
c.      Evaluasi kebutuhan dan keefektifan tempat tidur khususu atau matras.
d.     Mengubah posisi pasien setiap 2 jam.
3.      Masalah Kondisi hidrasi
Pengukuran masukan dan haluaran cairan yang akurat dan evaluasi terhadap perubahan berat badan dari hari kehari sangat penting pada pengkajian keseimbangan cairan. Perawat juga harus mengkaji kulit pasien dan membrane mukosa terhadap kering dan pecah-pecah, yang mencetuskan cedera lanjut. Observasi ketat terhadap status kardiovaskuler pasien di perlukan demgan evaluasi kecenderungan pada tanda vital, tekanan vena sentral, dan tekanan arteri pulmonel serta curah jantung.


4.      Masalah Menelan
a.       Kaji  kemampuan untuk menelan sebelum memberikan makan : kaji refleks menelan dengan mempalpasi tonjolan tyroid pada gerakan ke atas ; observasi gerakan lidah dan bibir.
b.      Observasi penutupan bibir dan gerakan lidah akan memberikan informasi tentang fase oral dari menelan yang adekuat. Bicara ngorok atau kelemahan suara atau keduanya menandakan kerusakan pada perototan orolaringeal, yang dapat merusak kemampuan menelan juga.
c.       Mulailah memberikan makan peroral dengan makanan padat jernih seperti gelatin atau agar-agar.
d.      Kaji refleks batuk sebelum memulai masukan oral. Pasien harus memperlihatkan refleks batuk yang adekuat untuk melindungi jalan napas. Batuk yang lemah tidak dapat membersihkan jalan napas bila proses aspirasi terjadi sehingga pasien tidak dapat memulai makan peroral.
5.      Masalah Eliminasi
Eliminasi Urine
·         Mengkaji pengeluaran urine terhadap jumlah, kwalitas dan berat jenis
·         Periksa residu kandung kemih setelah berkemih
·         Jika setelah berkemih residu urine > 200 ml catat masukan dan haluaran.
·         Jika menggunakan kateter intermiten digunakan 4-8 jam, pertahankan teknik styeril selam prosedur
·         Penampung urine eksternal mencegah infeksi saluran kemih
·         Jika kateter suprapubik diginakan, bersihkan sisi kateter setiap 8 jam
·         Mengkaji adanya peningkatanm suhu tubuh.
Eliminasi Bowel
·         Pertahankan program latihan usus
·         Rangsang devekasi dengan rangsanagn jari bila pasien memiliki sensasi rectal minimal. Rangsangan jari meliputi pemasukan jari bersarung tangan dengan pelumas tidak lebih dari garis batas jari kedua sedalam sfingter rectal eksternal. Dengan gerakan sirkuler lambat terhadap sfingter, refleks medulla spinalis akan di nilai. Baik sfingter rektai internal dan eksternal akan relaks, peristaltic akan meningkat dan evekuasi usus akan terjadi.
·         Gunakan eneme atau suposutioria pada pasien sadar
·         Beri pelunak feses sesuai instruksi
6.      Masalah Komunikasi
Kerusakan Komunikasi Verbal
·         Gunakan kalimat yang sederhana
·         Gunakan bahasa tubuh dan isyarat lingkungan untuk berkomunikasi
·         Beri waktu berespon yang adekuat
·         Buat rutinitas untuk kegiatan sehari-hari
·         Gunakan nada suara yang normal
·         Kaji deficit komunikasi terhadap disatria dan apraksia
·         Bantu keluarga dalam mengembangkan metode komunikasi dengan pasien
Perubahan Proses Pikir
·         Kontror ransang pada lingkungan pasien
·         Kaji respon terhadap rangsangan yang di control
·         Hindari pemberian sebutan terhadap respon yang tidak sesuai (mis ; bermusuhan, apatis, marah, menarik diri)
·         Jika pasien lethargi, tambahkan rangsang pada lingkungan (radio dan tape)
·         Jika pasien agitasi kurangi rangsangan lingkungan.
B.     Penanganan Cidera Spinal
1.      Penatalaksanaan Pernapasan
·         Kaji irama atau pola napas setiap 4 jam
·         Kaji bunyi napas setiap 2-4 jam
·         Evaluasi nilai GDA sesuai dengan kebutuhan
·         Pengkajian pasien dengan teknik batuk yang adekuat dapat membantu membersihkan jalan napas secara lebih efektif walaupun terjadi kelemahan atau kehilangan otot pernapasan yang menghasilkan refleks batuk otomatis.
·         Pengisapan sesuai kebutuhan dan evaluasi efeknya
2.      Latihan Usus
Langkah-langkah latihan usus :
Tujuan untuk mempertahankan dan mencapai inkontinensia usus
a.       Tentukan kebiasaan BAB sebelum cedera jika mungkin
b.      Ikuti program BAB yang di buat. Contoh dari program BAB adalah untuk pasien yang di Bantu dalam makan (makanan perselang atau makanan reguler).
·         Colase 100 mg peroral atau melalui selang NGT 3 kali perhari
·         Dulcolax supositoria setiap malam kecuali pasien telah BAB siang harinya.
·         Susu magnesium 30 ml peroral atau melalui selang NGT setiap 2 malam atau pada tanggal tertentu kecuali pasien telah BAB siang harinya.
·         Pada pasien yang sedang dalam keadaan puasa
·         Dulcolax Supositoria setiap 2 malam pada tanggal tertentu
c.       Enema dapat di berikan setiap hari sampai timbul peristaltic. Ini terdiri dari pamberian kira-kira 1 litrer air hangat enema dan kemudian pegang wadah di bawah ketinggian tempat tidur yang memungkinkan air mengalir kembali dan ulangi prosedur ini beberapa kali.
d.      Gunakan program devekasi dalam hubungannya dengan rangsangan jari. Rangsangan jari terdiri dari pemasukan jari dengan sarung tangan yang di beri pelumas kedalam sfingter anal, dengangerakan rotasi jari tangan sekitar sfingter. Sfingter akan secara perlahan dilatasi saat rangsangan terjadi. Jari dimasukan kira-kira setengah panjangnya, dan rotasi memutar di berikan terus menerus selama 15-20 menit sampai feses melalui rectum dan kemudian dievaluasi dari rectum.
e.        Bila pola evakuasi di buat, gunakan hanya rangsangan jari bila mungkin, keluarkan suposutoria. Gunakan hanya program devekasi pada individu yang tak mampu mentoleransi rangsang jari.
f.       Gunakan rangsang jari setelah setiap gerakan usus involunter sementara pola devekasi dibuat.
g.      Ubah program devekasi sesuai kebutuhan individu yang ditentukan oleh konsistensi feses.
h.      Gunakan salep Nupercainal atau jeli Xylocaine untuk memasukan supositoria atau untuk melakukan rangsangan jari jika pasien cenderung terhadap periode disrefleksia otonomik. Jeli atau salep dapat di gunakan pada rectum dan sekitar sfingter anal sebelum memasukkan supositoria atau memasukan jari.
i.        Pertahankan masukan tinggi cairan jika tidak di kontraindikasi sebagai contoh, pada kasus pembatasan cairan atau peningkatan TIK.
j.        Gunakan bantalan inkontinen dari pada bedpan bila memberi perawatan devekasi rutin. Badpan tidak bekerja baik untuk alas an ini : alat ini keras dan dapat menyebabkan tekanan area di atas koksigis ; ini tidak memungkinkan akses terhadap anus untuk rangsangan jari ; dan ini dapat mengganggu kesejajaran spinal yang perlu untuk pemulihan tepat pada pasien cedera medulla spinalis.
k.      Beri tahu dokter tentang diare berat dan lama, inpaksi, perdarahan rectal, atau hemoroid.
3.      Perawatan Kulit
a.       Melakukan perubahan posisi pada pasien setiap 2 jam. Kondisi kulit harus diperiksa sebelum dan sesudah melakukan perubahan posisi.
b.      Mengajarkan kepada pasien bagaimana melakukan pemindahan berat badan terutama pada saat mereka bangun dari kursi roda untuk periode lama selama sehari. Pemindahan  berat badan adalah cara menghilangkan tekanan dari tonjolan tulang.
c.       Cegah penggunaan bantalan yang cenderung menahan keringat
d.      Hindari pemakaian pakaian dari bahan nilon karena bahan tersebut menahan kelembaban.
e.       Lindungi kulit dari keringat, feses dan urine.
f.       Gunakan lotion atau krim pelumas lain

Tidak ada komentar:

Posting Komentar