MAKANAN PEDAMPING AIR SUSU IBU (MP-ASI)
9:54 PM SEASON NO COMMENTS
MAKANAN PEDAMPING AIR SUSU IBU (MP-ASI)
PENGERTIAN MAKANAN PENDAMPING ASI
Makanan pendamping ASI adalah makanan yang diberikan pada
anak usia 6–24 bulan. Peranan makanan tambahan sama sekali bukan untuk
menggantikan ASI melainkan untuk melengkapi ASI. Jadi, makanan pendamping ASI
harus tetap diberikan kepada anak, paling tidak sampai usia 24 bulan (Yesrina,
2000).
Makanan Pendamping ASI adalah makanan atau minuman yang
mengandung gizi diberikan kepada bayi/anak untuk memenuhi kebutuhan gizinya
(Utami, 2006).
TUJUAN PEMBERIAN MP-ASI
Tujuan pemberian makanan pendamping ASI adalah untuk
menambah energi dan zat-zat gizi yang diperlukan bayi karena ASI tidak dapat
memenuhi kebutuhan bayi secara terus menerus. (Yesrina, 2000). Dengan demikian
makanan tambahan diberikan untuk mengisi kesenjangan antara kebutuhan nutrisi
total pada anak dengan jumlah yang didapatkan dari ASI (WHO, 2003).
DAMPAK MEMBERIKAN MP-ASI TERLALU DINI
a. Risiko jangka pendek
Pengenalan makanan selain ASI kepada diet bayi akan
menurunkan frekuensi dan intensitas pengisapan bayi, yang akan merupakan risiko
untuk terjadinya penurunan produksi ASI.
Pengenalan serealia dan sayur-sayuran tertentu dapat
mempengaruhi penyerapan zat besi dari ASI sehingga menyebabkan defisiensi zat
besi dan anemia.
Resiko diare meningkat karena makanan tambahan tidak
sebersih ASI.
Makanan yang diberikan sebagai pengganti ASI sering encer,
buburnya berkuah atau berupa sup karena mudah dimakan oleh bayi. Makanan ini
memang membuat lambung penuh, tetapi memberi nutrient lebih sedikit daripada
ASI sehingga kebutuhan gigi/nutrisi anak tidak terpenuhi.
Anak mendapat faktor pelindung dari ASI lebih sedikit,
sehingga resiko infeksi meningkat.
Anak akan minum ASI lebih sedikit, sehingga akan lebih sulit
untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak
Defluk atau kolik usus yaitu istilah yang digunakan bagi
kerew
elan atau tangisan yang terus menerus bagi bayi yang
dipercaya karena adanya kram di dalam usus.
Risiko jangka panjang
1.Obesitas
Kelebihan dalam memberikan makanan adalah risiko utama dari
pemberian makanan yang terlalu dini pada bayi. Konsekuensi pada usia-usia
selanjutnya adalah terjadi kelebihan berat badan ataupun kebiasaan makan yang
tidak sehat.
2.Hipertensi
Kandungan natrium dalam ASI yang cukup rendah (± 15 mg/100
ml). Namun, masukan dari diet bayi dapat meningkatkan drastis jika makanan
telah dikenalkan. Konsekuensi dikemudian hari akan menyebabkan kebiasaan makan
yang memudahkan terjadinya gangguan/hipertensi.
3.Arteriosklerosis
Pemberian makanan pada bayi tanpa memperhatikan diet yang
mengandung tinggi energi dan kaya akan kolesterol serta lemak jenuh, sebaliknya
kandungan lemak tak jenuh yang rendah dapat menyebabkan terjadinya
arteriosklerosis dan penyakit jantung iskemik.
4.Alergi Makanan
Belum matangnya sistem kekebalan dari usus pada umur yang
dini dapat menyebabkan alergi terhadap makanan. Manifestasi alergi secara
klinis meliputi gangguan gastrointestinal, dermatologis, dan gangguan
pernapasan, dan sampai terjadi syok anafilaktik.(Cox, 2006)
TANDA-TANDA BAYI SUDAH SIAP DIBERIKAN MP-ASI
Mempunyai kontrol yang baik terhadap kepala dan leher.
Sudah bisa duduk sendiri
Menunjukkan ketertarikan terhadap makanan.
Lidah tetap di dalam saat sendok dimasukkan ke dalam
mulutnya.
Terbiasa pada tekstur dan makanan baru
Menggapai makanan atau benda lain, meraih dan memasukkannya
ke dalam mulut.
Memindahkan sendok dari satu tangan ke tangan yang lainnya
Bila sudah kenyang, bisa menunjukkannya dengan cara memalingkan
kepala atau dengan menutup mulut rapat-rapat. (Almatseir, 2001)
TANDA BAYI SUDAH SIAP DIBERI MP-ASI MENURUT (WHO, 2003)
ADALAH :
Dapat mengendalikan lidahnya lebih baik
Mulai melakukan gerakan mengunyah keatas dan ke bawah
Suka memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya
Berminat terhadap rasa yang baru
Pada usia ini juga sistem pencernaan sudah cukup matang
untuk mencerna berbagai makanan
WAKTU PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI (MP-ASI)
Makanan pendamping ASI harus mulai diberikan ketika bayi
tidak lagi mendapat cukup energi dan nutrient dari ASI saja. Untuk kebanyakan
bayi, makanan tambahan mulai di berikan pada usia 6 bulan. Pada usia ini otot
dan saraf di dalam mulut bayi cukup berkembang untuk memamah. Sebelum usia 4
bulan, bayi akan mendorong makanan keluar dari mulutnya karena mereka belum
bisa mengendalikan gerakan lidahnya dengan baik (WHO, 2003)
JENIS MAKANAN PENDAMPING ASI (MP-ASI)
Jenis makanan pendamping ASI yang diberikan oleh menurut
WHO, adalah sebagai berikut :
Bubur / sup dari makanan pokok (serealia, umbi-umbian dan
buah-buahan yang bertepung )
Kacang-kacangan (Misalnya merah, kacang polong dan kacang
hijau)
Sumber makanan hewani (makanan dari hewan)
Sayuran berdaun hijau dan buah-buahan
Minyak, lemak dan gula.
ALASAN MPASI DIBERIKAN PADA USIA ≥ 6 BULAN
ASI adalah salah satu makanan dan minuman yang dibutuhkan
oleh bayi sampai berumur 6 bulan
Menunda makanan padat sampai bayi berumur 6 bulan dapat
menghindarkan dari berbagai risiko penyakit
Menunda pemberian makanan padat memberikan kesempatan pada
sistem pencernaan bayi untuk berkembang menjadi lebih matang
Menunda pemberian makanan padat memberikan kesempatan pada
bayi agar sistem yang dibutuhkan untuk mencerna makanan padat dapat berkembang
dengan baik.
Menunda pemberian makanan padat mengurangi risiko alergi
makanan
Menunda pemberian makanan padat membantu melindungi bayi
dari anemia karena kekurangan zat besi
Menunda pemberian makanan padat membantu melindungi bayi
dari risiko terjadinya obesitas di masa datang
Menunda pemberian makanan padat membantu para ibu untuk
menjaga kesedian ASI
Menunda pemberian makanan padat membantu jarak pada
kelahiran bayi
Menunda pemberian makanan padat membuat pemberiannya menjadi
lebih mudah. (Dian, 2006)
JADWAL PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI (MP-ASI)
Jadwal makan bayi sebaiknya disesuaikan dengan jadwal makan
keluarga yaitu, 3x makanan pokok (sarapan pagi, makan siang, makan malam), 2x
makanan selingan (jam 10.00 dan 16.00), serta 3x ASI (saat bagun pagi, sebelum
tidur siang dan malam).
Jadwal pemberian makanan tambahan menurut umur, jenis
makanan, frekuensi pemberian dapat dilihat pada berikut :
Tabel: Jadwal Pemberian Makanan Tambahan Menurut Umur, Jenis
Makanan dan Frekuensi Pemberian
Umur Jenis Makanan Berapa kali sehari
6 – 7 bulan:
ASI Kapan diminta
Bubur lunak/sari buah
Bubur : bubur havermoot/ bubur tepung beras merah 1 – 2 kali
sehari
7 – 9 bulan:
ASI Kapan diminta
Buah-buahan
Hati ayam atau kacang-kacangan
Beras merah atau ubi
Sayuran (wortel, bayam)
Air tajin 3 – 4 kali sehari
9 – 12 bulan:
ASI Kapan diminta
Buah-buahan
Bubur atau roti
Daging/kacang-kacangan/ayam/ikan
Beras merah/kentang/labu/jagung
Sari buah 4 – 6 kali sehari. (Krisnatuti D, Yenrina, 2000)
TIPS MEMPERKENALKAN MP-ASI
Perkenalkan hanya satu jenis makanan baru dan berikan selama
2 sampai 4 hari sebelum perkenalkan makanan yang lain untuk memastikan bayi
anda tidak alergi terhadap makanan tersebut.
Urutan pemberian makan:
Mulailah pemberian makanan padat dengan makanan yang paling
tidak menyebabkan alergi (kadar protein paling rendah), yaitu serelia (beras
merah, beras putih, havermut). Campurkan dengan ASI, air atau susu formula
hingga semi-cair.
Beberapa ahli gizi merekomendasikan agar sayuran
diperkenalkan sebelum buah, karena buah yang rasanya manis akan membuat sayuran
yang rasanya kurang manis menjadi tidak menarik untuk bayi. Mulailah dengan
sayuran yang rasanya hambar seperti kentang, kacang hijau, labu, zucchini, baru
kemudian perkenalkan buah seperti pisang, alpukat, apel, pir, blewah, timun
suri.
Pangku bayi anda atau dudukkan di kursi makan atau tempat
duduk bayi saat anda menyuapi bayi anda. Posisi makan yang semestinya adalah
digendong anda atau didudukkan di tempat duduk bayi – pilihlah posisi yang
paling aman untuk anda dan bayi anda.
Mulai pemberian makanan padat secara bertahap. Untuk
mempermudah peralihan, mulailah pemberian makanan padat dengan makanan yang
sudah dikenalnya – ASI atau susu formula. Mulailah pemberian makanan padat
dengan meletakkan sedikit makan di ujung sendok dan letakkan sendok tersebut di
tengah lidah bayi. Lihat reaksi bayi anda. Anda mungkin akan mendapatkan senyum
tanda persetujuan atau seringai tanda tidak setuju. Cobalah untuk
memperkenalkan satu makanan baru selama tiga kali. Ada kemungkinan bayi anda
makan dengan tidak teratur. Ingatlah bahwa pada usia ini anda hanya
memperkenalkan bayi anda pada makanan dan tekstur baru.
Ketahui kapan harus berhenti memberi makan. Bayi anda akan
berhenti makan bila dia sudah kenyang. Jangan memaksa untuk tetap memberi
makan. Apabila bayi anda sudah kenyang dia mungkin akan memberikan tanda-tanda
sebagai berikut: mengatupkan bibir, menutup mulut, muntah, memainkan atau
menggigit puting, memalingkan wajah dari sendok yang didekatkan ke mulutnya,
menyandarkan tubuh ke belakang, makan atau minum lebih sedikit dan tertidur.
Penting bagi bayi anda untuk merespon tanda-tanda lapar yang timbul dari dalam
dirinya sendiri sebagai dasar dari kebiasaan makan yang sehat untuk sepanjang
hidupnya.
Berikan makanan tanpa tambahan gula atau garam. Bayi anda
tidak membutuhkan tambahan gula atau garam. Menambahkan bahan-bahan tersebut
tidak akan memperbaiki nilai nutrisi dari makanannya dan membuat bayi Anda
menetapkan makanan seperti ini sebagai standar pilihan makanan di masa
mendatang.
Jangan berikan madu selama 1 tahun pertama. Madu tidak boleh
diberikan untuk bayi dibawah 12 bulan. Jangan tambahkan madu pada makanan bayi
anda atau mencelupkan dotnya ke dalam madu. Madu terbukti dapat menyebabkan
penyakit serius, botulisme yang dapat menyebabkan kematian.
Botol harus digunakan untuk cairan seperti susu formula atau
air putih bukan untuk makanan. Apabila tidak direkomendasikan oleh DSA anda,
jangan masukkan jus buah, cereal atau makanan semi cair/padat lainnya ke dalam
botol susu karena dapat menyebabkan bayi anda makan terlalu banyak.
Gunakan boks bayi untuk tidur, bukan untuk makan. Tidur
dengan botol susu bisa meyebabkan berbagai masalah untuk bayi anda.
Botol berisi susu, jus atau cairan lain yang mengandung gula
bisa berkumppul di gigi bayi anda dan menyebakan terjadinya pembusukan gigi,
yang disebut nursing-bottle caries - karies susu.
Minum dari botol sambil tiduran bisa menyebabkan infeksi
telinga bagian tengah. (Suhaemi, 2005)
PRINSIP PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI
Berikan makanan yang kaya akan gizi sesuai dengan piramida
makanan. Saat ini yang dipakai adalah konsep makanan sehat seimbang seperti
yang dituangkan dalam piramida makanan. Segitiga makanan ini akan membantu kita
cara memfokuskan dan menseleksi makanan. Porsi terbesar makanan kita adalah
yang tertera di paling bawah piramida makanan, yaitu beras dan sereal sedangkan
makanan yang kebutuhannya sangat sedikit adalah yang di puncak piramida yaitu
lemak dan gula.
Tingkatkan tekstur, frekuensi dan porsi makanan secara
bertahap Kebutuhan energi dari makanan adalah sekitar 200 kcal/hari untuk bayi
usia 6-8 bulan, 300 kcal/hari untuk bayi usia 9-11 bulans, dan 550 kcal/hari
untuk anak usia 12-23 bulan
Memperhatikan bahan makanan untuk bayi
Sediakan makanan buatan sendiri dengan bahan-bahan lokal,
perhatikan keamanan dan kebersihan dalam menyiapkan. Menyimpan dan memberikan
makanan
Pemberian makanan dengan kasih sayang. Pahami kebutuhan dan
kondisi bayi. (Djaeni, 2000)
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBERIAN MP-ASI
a.Sosial Ekonomi
Faktor sosial ekonomi sangat berperan dimana sosial ekonomi
yang cukup atau baik akan memudahkan mencari pelayanan kesehatan yang lebih
baik. Faktor ekonomi berkaitan erat dengan konsumsi makanan atau dalam
penyajian makanan keluarga khususnya dalam pemberian MP-ASI. Kebanyakan penduduk
dapat dikatakan masih kurang mencukupi kebutuhan dirinya masing-masing. Keadaan
umum ini dikarenakan rendahnya pendapatan yang mereka peroleh dan banyaknya
anggota keluarga yang harus diberi makan dengan jumlah pendapatan rendah (SKRT,
2004).
b.Status Pekerjaan
Bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu bagi
ibu-ibu yang mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga (Markum, 2003).
Seorang yang memerlukan banyak waktu dan tenaga untuk menyeleseikan pekerjaan
yang dianggap penting dan memerlukan perhatian dengan adanya pekerjaan.
Masyarakat yang sibuk akan memiliki waktu yang sedikit untuk memperoleh
informasi, sehingga tingkat pendidikan yang mereka peroleh juga berkurang,
sehingga tidak ada waktu untuk memberikan ASI pada bayinya dan cenderung memberikan
MP-ASI pada bayi.
c.Sosial Budaya
Faktor sosial budaya sangat berperan dalam proses terjadinya
masalah pemberian MP-ASI diberbagai kalangan masyarakat. Unsur-unsur budaya
mampu menciptakan suatu kebiasaan untuk memberikan MP-ASI pada bayi dengan
alasan bayi tidak akan kenyang dengan diberikan ASI saja.
d.Kemauan Ibu
Seorang ibu yang secara tidak sadar berpendapat bahwa
menyusui hanyalah merupakan beban saja bagi kebebasan pribadinya atau hanya
memperburuk ukuran tubuhnya, tidak akan dapat menyusui anaknya dengan baik
perasaan tersebut mempunyai pengaruh negative terhadap produksi susu .
(Kristina, 2007).
KARAKTERISTIK IBU
1). Tingkat Pendidikan Dalam Pemberian MP-ASI
Tingkat pendidikan merupakan jenjang pendidikan terakhir
yang ditempuh seseorang tingkat pendidikan merupakan suatu wahana untuk
mendasari seseorang berprilaku secara ilmiah.
Tingkat pendidikan yang rendah akan susah mencerna pesan
atau informasi yang disampaikan (Notoatmodjo, 2003). Pendidikan diperoleh
melalui proses belajar yang khusus diselenggarakan dalam waktu tertentu, tempat
tertentu dan kurikulum tertentu, namun dapat diperoleh dari bimbingan yang
diselenggarakan sewaktu-waktu dengan maksud mempertinggi kemampuan atau
ketrampilan khusus. Dalam garis besar ada tiga tingkatan pendidikan yaitu
pendidikan rendah, pendidikan menengah, dan tinggi. Masing-masing tingkat
pendidikan tersebut memberikan tingkat pengetahuan tertentu yang sesuai dengan
tingkat pendidikan. Semakin tinggi tingkat pendidikan formal yang diperoleh,
semakin tinggi pula pengetahuan tentang pemberian MP-ASI yang tepat (Tarmudji,
2003).
2). Umur Ibu
Umur adalah lama hidup individu terhitung saat mulai
dilahirkan sampai berulang tahun (Nursalam, 2003). Semakin cukup umur, tingkat
kematangan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi
kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa akan lebih dipercaya dari
pada orang yang belum cukup tinggi kedewasaannya. Hal ini sebagai akibat dari
pengalaman dan kematangan jiwa (Nursalam, 2003).
3). Pengetahuan
Dari hasil penelitian (FKUI) tampak bahwa ibu yang
berpendidikan rendah sampai menengah lebih cepat memberikan susu botol daripada
ibu yang tidak berpendidikan formal. Ibu yang tidak formal sebagian telah
mengetahui apa dampak dari pemberian MP-ASI dini sehingga mendorong ibu untuk
menyusui bayinya sendiri (Notoatmodjo, 2005).
REFERENSI:
Arikunto, 2005. Prosedur penelitian dengan pendekatan
Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Binadiknakes, 2001. Elektromedik dan pengembangannya. Edisi
No 17.
BKKBN, 2002. Informasi Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta:
BKKBN.
BKKBN, 2004. Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi:
Kebijakan Program dan Kegiatan tahun 2005-2009. Jakarta: BKKBN.
BKKBN, 2005. Unit Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: BKKBN.
Bhuono, 2005. Strategis Jitu Memilih Metode Statistik
Penelitian dengan SPSS. Yoagyakarta: Andi offset.
Manuaba, 2002. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan
Keluarga Berencana. Jakarta: EGC.
Hartanto, 2002. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan.
Hastono, 2008. Metode Statistik Inferensial. Jakarta:
Universitas Indonesia.
Mansjoer, 2003. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2 Edisi 3.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indoensia.
Notoatmodjo, 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta:
Rineka Cipta.
Nursalam, 2003. Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta:
Infomedika.
Nursalam, 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitan
Ilmu Keperawatan, Edisi III . Jakarta: Salemba Medika.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 2004. Kamus Besar
Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Soedigdo, 2002. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis,
Jakarta: Binarupa Aksara.
Sugiyono, 2006. Statistika untuk Penelitian. Bandung: CV.
Alfa Beta.
Varney, 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan edisi 4. Jakarta:
EGC.
Verralls, 2008. Anatomi dan Fisiologi Terapan dalam
Kebidanan Edisi ke 3. Jakarta: EGC
Wiknjosastro, 2006. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar