infoUmum.com
Jumat, 19 April 2013
CARA MEMASUKKAN FILE EXCEL KE DALAM BLOG
Langkah 1 : upload file ke google docs.
- Silahkan login ke http://docs.google.com dengan account gmail anda.
- Klik tab Upload yang berada di sebelah kiri atas layar monitor anda.
- Klik tombol browse… di bawah tulisan Browse your computer to select a file to upload:
- Masukan file yang ingin anda upload (word, excel, power point).
- Klik tombol Upload File yang ada di sebelah bawahnya.
- Tunggu beberapa saat sampai file anda terupload semuanya (tergantung dari besarnya file serta kecepatan koneksi anda).
- Jika sudah ter_upload, anda bisa mengeditnya jika mau.
- Klik tab publish yang ada di sebelah kanan atas layar monitor anda, maka akan keluar tulisan “Thisdocument is not yet published”.
- Klik tombol publish now yang ada di bawahnya.
- Jika sudah selesai, lihat kembali ke bagian bawahnya!
- Klik link bertuliskan More publishing options.
- Setelah keluar window pop up, klik menu drop down di sebelah tulisan File format kemudian pilihHTML to embed a webpage.
- Klik tombol Generate URL.
- Copy kode HTMl yang di berikan, lalu paste pada notepad atau text editor lainnya.
- Silahkan di close saja window nya.
- Silahkan anda sign out dari google docs jika mau.
- Selesai.
Langkah 2 : posting kode google docs ke blogger.
- Silahkan login ke blog dengan ID anda.
- Klik Posting Baru.
- Silahkan anda buat postingan yang anda inginkan.
- Ketika anda mau menyisipkan kode yang dari google docs, klik terlebih dahulu tab Edit HTML ( jangan yang compose)
- Paste kode google docs yang ada di notepad tadi pada tempat yang anda inginkan.
- Klik Tombol MEMPUBLIKASIKAN POSTING.
- Silahkan lihat hasilnya.
- Selesai.
Cara lain , caranya:
- log on ke www.scribd.com.... kalo disuruh login, login aja dulu
- setelah beres login, upload deh file yang mau di masukkan dalam postingan blog,,bisa berupa doc, xls, atau ppt.
- Setelah proses upload beres, cari tombol "embedd" (adanya di bagian kanan agak ke bawah), klik, muncul 2 pilihan link HTML. jangan klik yang atas, tapi yang kedua. klik bagian "COPY" lalu PASTE dech di postingan blog kamu... beres deh....
selain lebih praktis, tampilan "tabel" (dlm excel) lebih terlihat ketimbang dengan menggunakan google docs. dapat di download, di print and di share juga.
SELAMAT MENCOBA..... MARI KITA BERBAGI PENGETAHUAN..
Program Caesar Chiper dengan VB
Caesar
Chiper merupakan salah satu metode penyadian pesan yang cukup terkenal. Konsep
Caesar Chiper adalah dengan melakukan pergeseran huruf ke kanan atau ke kiri
dalam susunan alphabet sesuai dengan kunci yang ditentukan baik Enkripsi maupun
Dekripsi.
Sebagai
contoh, huruf “A” dengan kunci=3 digantikan dengan huruf “D”, huruf “B” dengan
kunci=5 digantikan dengan huruf “G” dan seterusnya.
Setiap
karakter yang dimasukan kedalam komputer akan dikonversi ke dalam bilangan
binner (1 dan 0). Berdasarkan ASCII (American
Standard Code for Information Interchange) karakter memiliki nilai desimal
yang seterusnya dikonversi ke bilangan binner. Khusus karakter alphabet kapital
A-Z bernilai 65-90 sedangkan alphabet a-z bernilai 97-122.
Sekarang mari membuat program sederhana untuk melakukan Enkripsi atau Dekripsi terhadap pesan yang memiliki kunci.
Langkah-langkah
membuat program:
1. Rancang dahulu
form pada VB seperti berikut:
1. Pada tombol Command1, ketik kode
program berikut:
Private Sub Command1_Click()
Dim i As
Long
Dim c As
Integer
Dim pi As
Integer
Dim ci As
Integer
Dim k As
Integer
k =
Val(nShift)
hsl =
""
For i = 1 To
Len(strPText)
c =
Asc(Mid$(strPText, i))
If ((c >=
65) And (c <= 90)) Then
pi = c - 65
ci = (pi + k) Mod 26
d = ci + 65
hsl = hsl + Chr(d)
ElseIf ((c
>= 97) And (c <= 122)) Then
pi = c - 97
ci = (pi + k) Mod 26
d = ci + 97
hsl = hsl + Chr(d)
End If
Next i
End Sub
2. Pada tombol Command2, ketik kode
program berikut:
Private Sub
Command2_Click()
Dim i As
Long
Dim c As
Integer
Dim pi As
Integer
Dim ci As
Integer
Dim k As
Integer
k =
Val(nShift)
hsl =
""
For i = 1 To
Len(strPText)
c =
Asc(Mid$(strPText, i))
If ((c >=
65) And (c <= 90)) Then
pi = c - 65
ci = (pi - k) Mod 26
d = ci + 65
hsl = hsl + Chr(d)
ElseIf ((c
>= 97) And (c <= 122)) Then
pi = c - 97
ci = (pi + k) Mod 26
d = ci + 97
hsl = hsl + Chr(d)
End If
Next i
End Sub
3. Pada tombol Command3, ketik kode
program berikut:
Private Sub
Command3_Click()
strPlaintext
= ""
nShift =
""
hsl =
""
strPText.SetFocus
End Sub
4. Pada tombol Command3, ketik kode
program berikut:
Private Sub
Command4_Click()
End
End Sub
Maka
Hasil dari program diatas adalah:
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Riset terbaru WHO pada tahun 2005 yang dikutip oleh Siswono
(2006) menyebutkan bahwa 42% penyebab kematian balita di dunia adalah penyakit
pneumonia sebanyak 58% terkait dengan malnutrisi, malnutrisi sering kali
terkait dengan kurangnya asupan ASI (gizi online, 2007).
Keadaan kekurangan gizi pada bayi dan anak di sebabkan
kebiasaan pemberian MP-ASI yang tidak tepat (Media indo online, 2006). Akibat
rendahnya sanitasi dan hygiene MP-ASI memungkinkan terjadinya kontaminasi oleh
mikroba, hingga meningkatkan resiko dan infeksi lain pada bayi, hasil
penelitian widodo (2006) bahwa masyarakat pedesaan di Indonesia jenis MP-ASI
yang umum diberikan kepada bayi sebelum usia 4 bulan adalah pisang (57,3%) dan
rata-rata berat badan bayi yang mendapat ASI eksklusif lebih besar dari pada
kelompok bayi yang diberikan MP-ASI (Depkes online, 2007)
Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) diberikan kepada bayi
setelah berusia 4-6 bulan sampai bayi berusia 24 bulan. Jadi, selain MP-ASI, ASI
pun harus tetap diberikan kepada bayi, paling tidak sampai usia 24 bulan.
Adapun hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam pemberian makanan tambahan
untuk bayi yaitu makanan bayi (termasuk ASI) harus mengandung semua zat gizi
yang diperlukan oleh bayi, dan diberikan kepada bayi yang telah berumur 4-6
bulan sebanyak 4-6 kali/hari, sebelum berumur dua tahun, bayi belum dapat
mengkonsumsi makanan orang dewasa, makanan campuran ganda (multi mix) yang
terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, dan sumber vitamin lebih cocok bagi bayi
(Krisnatuti, 2007).
Berdasarkan hasil pra survey di BPS Nur Aisyah Sekampung
pada bulan Maret 2008, jumlah bayi yang berusia 6 – 24 bulan sebanyak 108 bayi
dan sudah diberikan makanan pendamping ASI.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk
melakukan penelitian tentang bagaimana pengetahuan Ibu menyusui tentang
pemberian MP-ASI pada bayi usia 6 – 24 bulan di BPS Nur Aisyah Sekampung
.......... ........
B. Rumusan Masalah
Dari uraian masalah diatas maka penulis membuat rumusan
masalah “Bagaimana pengetahuan ibu menyusui tentang pemberian makanan
pendamping ASI pada bayi 6 – 24 bulan”.
C. Ruang Lingkup
Dalam penelitian ini, ruang lingkup penelitiannya adalah
sebagai berikut:
1. Sifat penelitian : Deskriptif
2. Obyek penelitian : Pengetahuan ibu menyusui tentang
pemberian Makanan pendamping ASI pada bayi 6 – 24 bulan.
3. Subyek penelitian : Seluruh ibu menyusui yang memiliki
bayi 6 – 24 bulan dan yang telah memberikan makanan pendamping ASI.
4. Lokasi penelitian : Di BPS Nur Aisyah Sekampung Kabupaten
.......... ........
5. Waktu penelitian : Maret – Mei 2008.
D. Tujuan Penelitian
Diketahuinya gambaran pengetahuan ibu tentang pemberian
Makanan pendamping ASI pada bayi 6 – 24 bulan di BPS Nur Aisyah Sekampung
Kabupaten .......... ........
E. Manfaat Penelitian
1. Peneliti
Menambah pengetahuan dan pengalaman untuk penerapan ilmu
yang didapat selama kuliah dalam rangka pengetahuan ibu menyusui.
2. Seluruh Ibu menyusui di desa Trimulyo Puskesmas Sekampung
Kabupaten .......... ........
Hasil penelitian ini diharapkan meningkatkan pengetahuan ibu
menyusui tentang makanan pendamping ASI pada bayi 6 – 24 bulan.
3. Institusi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan
masukan bagi proses penelitian selanjutnya terutama yang berhubungan dengan
pemberian makanan pendamping ASI pada bayi 6 – 24 bulan
Sumber: kti kebidanan faktor-faktor: Pengetahuan Ibu
Menyusui Tentang Pemberian Makanan Pendamping ASI Pada Bayi 6 - 24 Bulan di BPS
http://kti-kebidanan-faktor-faktor.blogspot.com/2011/11/pengetahuan-ibu-menyusui-tentang.html#ixzz2OBZcrXvE
Follow us: @infoktiskripsi on Twitter | dewi.azahramaharani
on Facebook
3.1
PENEMUAN INFORMASI DAN PENGETAHUAN DENGAN INTELEGENSI
BISNIS
Intelegensi Bisnis
Setelah data berada di gudang data dan/atau data mart, maka data akan dapat diakses
oleh manajer, analis, dan pengguna akhir lainnya. Pengguna akan dapat melakukan
beberapa aktivitas. Aktivitas ini sering disebut pemrosesan analitis atau lebih
umum disebut intelegensi bisnis. Intelegensi
bisnis (business intelegence - BI)
adalah kategori luas dari aplikasi dan teknik untuk mengumpulkan, menyimpan,
menganalisis, dan menyediakan akses ke data untuk membantu pengguna dalam
membuat keputusan bisnis dan keputusan strategis yang lebih baik (Oguz, 2003).
Proses BI biasanya, namun tidak selalu, mencakup penggunaan gudang data seperti
yang ditunjukan dalam Figur 3.6.
Cara Kerja Intelegensi Bisnis. Data operasional biasanya disimpan dalam basis data perusahaan. Misalnya, jaringan ritel nasional yang
menjual berbagai macam produk mulai dari alat pemanggang dan furnitur hingga
peralatan plastik, memiliki data mengenai persediaan, informasi pelanggan, data
mengenai promosi yang telah dilakukan, dan angka penjualan dalam berbagai
sistem – dan mungkin tampak tidak berhubungan – gudang dapat menyatukannya.
Dengan menggunakan peranti lunak inteligensi bisnis, pengguna dapat mencari
data, meminta laporan, atau melakukan analisis lainnya. Hasil dari permintaan
dan analisis dapat berupa laporan, prediksi, peringatan, dan/atau sajian geografis.
Alat dan Teknik untuk Inteligensi Bisnis. BI menggunakan sejumlah besar alat dan teknik. Aplikasi
utamanya mencakup aktivitas permintaan data dan pelaporan, pemrosesan analitis online (online analytical processing – OLAP),
pendukung keputusan, penggalian data, peramalan, dan analisis statistik. Vendor utama BI adalah SAS. Vendor lainnya mencakup
Microstrategy, Cognos, SPSS, dan Business Objects.

Figur 3.6 Cara kerja inteligensi bisnis
Peranti/alat BI
dapat dibagi dalam dua kategori utama : (1) penemuan
informasi dan pengetahuan dan (2) pendukung
keputusan dan analisis inteligen.
Alat dan Teknik Penemuan Informasi dan Pengetahuan
Penemuan informasi dan pengetahuan berbeda dengan
dukungan keputusan dalam hal tujuannya : penemuan.
Setelah temuan didapatkan, hasilnya dapat digunakan untuk mendukung keputusan.
Berikut ini akan dijelaskan perbedaan antara penemuan informasi dan penemuan
pengetahuan.
Evolusi Penemuan Informasi dan Pengetahuan. Penemuan informasi dimulai pada akhir tahun 1960-an
dengan teknik pengumpulan data. Saat itu pengumpulan data masih sangat
sederhana, dan menjawab permintaan data mengenai satu set data historis.
Analisis ini diperluas dengan alat seperti SQL dan sistem manajemen basis data
relasional. Selama tahun 1990-an, alat yang lebih baik untuk mengelola jumlah
data yang semakin meningkat dibutuhkan, sehingga menghasilkan penciptaan gudang
data dan munculnya OLAP dan basis data multidimensional. Ketika jumlah data
yang akan dianalisis meningkat tajam pada pertengahan 1990-an, penemuan pengetahuan muncul sebagai alat
analitis yang penting.

Figur 3.7 Kategori inteligensi bisnis
Proses ekstraksi
pengetahuan yang berguna dari sejumlah data disebut penemuan pengetahuan (knowledge
discovery – KD). Tujuan utama dari KD adalah mengidentifikasi pola yang
valid, baru, yang mungkin bermanfaat dan dapat dipahami dalam data. KD berguna
karena didukung oleh tiga teknologi yang saat ini telah matang, yaitu
pengumpulan data yang besar, komputer multiprosesor berdaya tinggi, dan
penggalian data dan algoritma lainnya. Bagian ini akan menjelaskan dua alat
untuk penemuan informasi, yaitu permintaan ad-hoc
dan OLAP.
Permintaan
Ad-Hoc dan Pelaporan.
Permintaan ad-hoc (ad-hoc query)
memungkinkan pengguna untuk meminta, secara real
time, informasi dari komputer yang tidak tersedia dalam laporan periodik.
Jawaban seperti ini dibutuhkan untuk mempercepat pengambilan keputusan. Sistem permintaan ad-hoc
sederhana sering kali berdasarkan menu-menu. Sistem
yang lebih canggih menggunakan structured
query language (SQL). Sistem yang paling canggih didasarkan dari pemrosesan
bahasa alami, dan beberapa dapat berkomunikasi dengan pengguna dengan
menggunakan pengenal suara. Penggunaan alat Web untuk memfasilitasi permintaan
akan dijelaskan kemudian.
Pemrosesan Analitis Online. Istilah pemrosesan
analitis online (online analytical
processing – OLAP) menggambarkan pemrosesan analitis dari data segera
setelah transaksi terjadi. Peranti OLAP dapat menganalisis data untuk
mencerminkan kebutuhan bisnis aktual. Asumsikan bahwa suatu perusahaan mengatur
tenaga penjualnya berdasarkan wilayah – misalnya Timur, Barat, dan Pusat.
Ketiga wiayah ini kemudian dapat dibagi lagi menjadi negara bagian. VP
penjualan dapat menggunakan OLAP dengan basis data multidimensional dari
perusahaan untuk melihat angka penjualan di setiap wilayah (misalnya penjualan
mur, sekrup, baut, dan ring). VP kemudian ingin melihat wilayah Timur dibagi
dalam beberapa negara bagian agar kinerja manajer penjualan di masing-masing
negara bagian dapat dievaluasi. Perhatikan bahwa organisasi bisnis tercermin
dalam struktur data.
Kekuatan
OLAP adalah kemampuannya untuk menciptakan struktur bisnis ini (wilayah
penjualan, kategori produk, kalendar fiskal, saluran partner, dan sebagainya)
dan menggabungkannya dengan cara tertentu sehingga pengguna dapat dengan cepat
menjawab berbagai pertanyaan bisnis. ”Berapa banyak mur yang dijual di wilayah
Timur pada tahun 2002?” adalah jenis pertanyaan yang dapat dijawab dengan baik
oleh OLAP. Pengguna dapat mengiris data secara interaktif dan menggali
perincian yang mereka inginkan. Selain menjawab permintaan data, OLAP dapat
menganalisis hubungan antarkategori data dan mencari pola, kecenderungan, dan
pengecualian. Misalnya, ”Bagaimana kecenderungan penjualan ring di wilayah
Barat tiga tahun terakhir?”
Saat
ini peranti lunak memungkinkan akses, biasanya dengan penjelajah, ke sejumlah
besar data, seperti data penjualan selama beberapa tahun; peranti lunak juga
memungkinkan analisis hubungan antara berbagai jenis elemen bisnis, seperti penjualan,
produk, wilayah, dan saluran. Pengguna dapat memproses kumpulan data, seperti volume
penjualan, anggaran, dan pengeluaran, untuk membandingkan kumpulan data
sepanjang waktu dan untuk menyajikan data dalam perspektif yang berbeda,
seperti penjualan menurut wilayah versus penjualan menurut produk atau menurut
produk dalam masing-masing wilayah. Peranti lunak saat ini juga memungkinkan
perhitungan yang rumit antara elemen-elemen data, seperti laba yang diharapkan
yang dihitung sebagai fungsi pendapatan untuk setiap jenis saluran penjualan
dalam wilayah tertentu. Peranti lunak merespons dengan cepat permintaan
pengguna sehingga pengguna dapat melakukan proses pemikiran analitis tanpa
terhalangi oleh sistem.
Kamis, 18 April 2013
recursive descent parser = rekursif keturunan parser
Dalam ilmu komputer dan linguistik, parsing,
atau, lebih formal, analisis sintaksis, adalah proses menganalisis teks,
terbuat dari urutan token (misalnya, kata-kata), untuk menentukan struktur gramatikal
terhadap hal yang diberikan (lebih atau kurang) tata bahasa formal. Parsing juga merupakan istilah awal untuk diagram
kalimat bahasa alam, dan masih digunakan untuk diagram bahasa infleksi, seperti
bahasa-bahasa Roman atau Latin. Istilah penguraian Pars berasal dari bahasa
Latin (ōrātiōnis), yang berarti bagian (pidato).
Pembuatan
Compiler dengan Metode Recursive Descent Parser
.dimana Parser bertugas menganalisis token yang dihasilkan
pada proses scan sesuai dengan grammar. Recursive Descent Parser (RDP) adalah
salah satu cara untuk mengaplikasikan bahasa bebas konteks untuk melakukan
analisis sintaksis suatu source code. Ciri dari RDP yang menonjol adalah secara
rekursif menurunkan semua variabel dari awal sampai bertemu terminal dan tidak
pernah mengambil token secara mundur (no back track). Ciri lain dari RDP adalah
sangat bergantung pada algoritma scan dalam mengambil token.
RDP
juga dapat dikombinasikan dengan Predictive Parser. Predictive Parser (PP)
adalah parser yang menggunakan prediksi untuk mengoptimalkan kerja dari parser.
Parser model ini juga akan mengecilkan terjadinya rekursi kiri atau salah
interpretasi. Prinsip dari predictive parser adalah mengelompokkan produksi
sesuai dengan pola yang ada sehingga aturan produksi tertentu sudah
diprediksikan penurunannya.
Di
dalam proses kompilasi, analisis sintaksis menggunakan parser merupakan bagian
front end dari model kompilasi. Karakteristik dari parser top-down hanya
membutuhkan beberapa baris untuk mengakomodasi bahasa yang telah dirancang dan
sangat cocok dengan BNF, simbol variabel direpresentasikan dengan sebuah
prosedur,
Penurunan
secara rekursif dapat terlihat dari kedua algoritma. Prosedur bool_term
dipanggil oleh prosedur exp. Di dalam prosedur bool_term juga terjadi
pemanggilan prosedur, yaitu prosedur bool_not_fact. Pemanggilan prosedur
tersebut terjadi berulang-ulang (rekursif) dan terjadi penurunan (descent).
Rekursi (penurunan) terjadi sampai menemui simbol terminal (token). Masalah
utama dalam penggunaan rekursi adalah rekursi yang tidak berhenti. Oleh karena
itu, diperlukan kehati-hatian dalam pemakaian rekursi. Predictive parser
diperlukan untuk menekan atau menghilangkan kemungkinan terjadinya hal
tersebut.
.
Perancangan
Perancangan
merupakan tahap awal dari suatu aplikasi program untuk menghasilkan sistem yang
baik. Perancangan dibuat sebagai landasan implementasi untuk mempermudah
pembuatan aplikasi. Perancangan meliputi perancangan parser (BNF dan diagram
sintaks), perancangan scanner (FA) dan desain aplikasi.
a.
Perancangan Parser menggunakan BNF dan Diagram Sintaks
BNF
dan Diagram Sintaks Kode sumber pada kompiler memerlukan BNF dan diagram
sintaks agar pembuat program mudah dalam membuat program. Adapun beberapa
rancangan BNF dari kompiler yang dibuat
Parser
Dalam komputasi, parser adalah salah satu komponen dalam
sebuah interpreter atau kompiler, yang memeriksa sintaks yang benar dan
membangun struktur data (sering beberapa jenis pohon parse, sintaks abstrak
pohon atau struktur hirarkis lainnya) yang tersirat dalam token
masukan. Program pendeteksi kombinasi tombol sering menggunakan
penganalisis leksikal terpisah untuk membuat token dari urutan karakter
masukan. Parser dapat diprogram dengan tangan atau mungkin (semi-)
otomatis dihasilkan (dalam beberapa bahasa pemrograman) dengan alat (seperti
Yacc) dari tata bahasa yang ditulis dalam bentuk Backus-Naur.
Contoh
tentang parser
- Parser
top-down, Beberapa parser yang menggunakan top-down parsing
meliputi: Rekursif keturunan parse, LL parser (Kiri-ke-kanan,
paling kiri derivasi);
- Parser Earley, X-SAIGA –
Spesifikasi executable tata bahasa. Berisi publikasi yang terkait
dengan top-down parsing algoritma yang mendukung rekursi kiri dan
ambiguitas dalam waktu polinomial dan ruang;
- Parser Bottom-up,
Beberapa parser
yang menggunakan bottom-up parsing meliputi: Diutamakan
parser, Operator-diutamakan parser, Wikipedia diutamakan
parser, SM (konteks terbatas) parsing, LR parser (kiri ke kanan,
paling kanan derivasi), Wikipedia LR (SLR) parser, LALR
parser, Canonical LR (LR (1)) parser, GLR parser, CYK
parser;
- Pengembangan
perangkat lunak Parser, Beberapa alat yang terkenal meliputi pembangunan parser
berikut. Juga lihat perbandingan generator
parser, ANTLR, Banteng, Coco /
R, GOLD, JavaCC, Undang-undang, Ragel, Definisi
Sintaks Formalisme, Roh Parser Framework, Sintaksis, Yacc
Algoritma Backpropagation
Langkah-langkah
0.
Inisialisasi Bobot dan Bias
1.
Jika Stoping condition belum
terpenuhi, jalankan langkah 2-9
2.
Untuk semua data training
lakukan langkah 3-8
3.
Umpan maju (Feedforward)
Setiap unit input (X1..Xn)
menerima sinyal input xi dan menyebarkan sinyal tersebut pada seluruh unit pada
hidden unit.
Voj*bias, x1*v1,
x2*v2, xn*vn
4.
Setiap hidden unit (Zj,
1j=1..,p) akan menjumlahkan sinyal-sinyal input yang sudah berbobot termasuk
biasnya
5.
Setiap unit output (Yk, k=1,..,m) menjumlahkan
sinyal-sinyal input yang sudah berbobot termasuk biasnya.
W0k*bias, Zj*Wjk
6.
Setiap unit output (Yk, k=1,..,m) menerima suatu
target pattern (desired output) yang sesuai dengan input training pattern untuk
menghitung kesalahan (Error) antara target (T) dengan output (Yk)
jaringan.
W_error = Tk-Yk
Q=f’(Y_ink) = Fungsi turunan
dari Sigmoid biner
Koreksi Bias à
7.
Setiap hidden unit (Zj,
j=1,..,p) menjumlahkan input delta yang dikirim dari layer langkah 6 yang sudah
berbobot.
Koreksi W_error (EC) =
kwjk
8.
Pembaharuan Bobot dan
Bias
Setiap unit output (Yk, k=1,..,m) akan memperbaharui
bias dan bobotnya dari setiap hidden unit (j=0,..,p)
9.
Periksa stoping condition
apakah sudah sama dengan yang ditentukan (E-max) kalau belum lakukan langkah
3-8.
Catatan:
Stoping
Condition dilakukan apabila:
1.
Error sistem = error yang ditentukan
(diharapkan)
2.
Terjadi overtraining à error semakin besar setelah beberapa epoch
3.
Training terlalu (lama) àharus dibatasi epoch nya
Langganan:
Postingan (Atom)